Surat Pertama Untukmu, Calon Penjagaku...
23.19
Assalamu’alaikum wa
rahmatullah wa barakaatuh.
Apa kabar, calon jodohku?
Mungkin kamu terkaget-kaget
mendapatkan surat dari orang yang sama sekali belum kamu kenal. Aku pun begitu,
aku lebih kaget lagi karena aku mampu menulis surat untuk seseorang yang belum
aku kenal. Ada-ada saja...
Tapi, apa benar kita sama
sekali tidak saling mengenal? Atau jangan-jangan kita sudah sangat dekat, hanya
saja kita tidak menyadari bahwa kita berjodoh. Kedengarannya mungkin aneh, tapi
itu memang sudah jadi rahasia-Nya, jodoh itu ga bisa di tebak...
Biar jodoh ini jadi
rahasia-Nya...
Hai calon jodohku, calon
imamku, calon penjagaku. Jangan kaget, ya! Ini akan menjadi surat pertama yang
ku tulis untukmu, dan akan terus bersambung hingga aku tak mampu menuliskan
kata-kata lagi.
Calon penjagaku.
Bolehkan aku terus
memanggilmu seperti itu? Hingga tiba saatnya, aku memanggilmu dengan panggilan
yang lebih indah dari itu. Saat dimana ijab dan qabul telah disahkan oleh para
saksi. Saat dimana ridha-Nya mengizinkan kita untuk lebih dekat.
Tapi sebelum itu...
Calon penjagaku.
Tahukah engkau siapa aku
sebenarnya?
Bagaimana keadaanku sesaat
sebelum kita berjodoh?
Dan, jika kamu mengetahui
semunya, apa kamu masih bisa menerimaku?
Calon penjagaku.
Meski harus tanpa izinmu,
biarkan aku bercerita sedikit tentang masa laluku. Tenang saja, aku tak akan
mengumbar semuanya disini. Hanya disisimu kelak, aku akan bercerita seutuhnya.
Calon penjagaku.
Aku hanya gadis biasa. Yang
hampir selalu mengikuti arus pergaulan masa kini.
Tapi jangan khawatir, aku
bergaul dengan orang-orang baik selama ini. Hanya saja, benteng pertahanan
nafsuku yang belum kokoh. Sehingga aku ikut terpengaruh berbagai khayalan yang
pada akhirnya membuatku amat menyesal. Dan itu semua murni akibat kesalahanku
sendiri.
Maafkan aku, calon
penjagaku.
Jika sebelumnya aku belum
mampu menjaga pertahananku sendiri. Mungkin kamu akan meragukanku, meragukan
kesetiaanku, meragukanku dalam berbagai hal. Dan aku tak akan menyalahkanmu,
jika kamu meragukanku.
Calon penjagaku.
Jika kelak kita memang
berjodoh. Harapanku, kita jangan gegabah dalam mengambil keputusan, karena
ketika ijab dan qabul telah terucap, perjanjian yang terberat akan menjadi
tanggung jawab kita. Istikharah dan meminta restu orang tua, itu yang terbaik.
Calon penjagaku.
Jangan khawatir dengan
segala kekurangan yang kamu miliki, karena akupun punya banyak kekurangan.
Percayalah, calon
penjagaku.
Kekurangan bukan akhir dari
segalanya.
Jika kita mampu menerima
dengan baik dan ikhlas, kita akan saling melengkapi. Kekurangan dan kelebihan
yang kita miliki akan terasa sempurna, jika kita mau mengakui dan menerima
dengan tulus ikhlas. Meski kesempurnaan itu hanya kita yang merasakan, tanpa
perlu orang lain mengetahuinya, dan karena kesempurnaan yang mutlak itu hanya
milik-Nya.
Calon penjagaku.
Maafkan aku yang belum
mampu menjaga semuanya. Karena aku hanya insan biasa yang tak luput dari salah.
Harapku.
Saat kamu masih menjadi
calon penjagaku. Sebut aku dalam do’a terindahmu. Meski kita belum mengenal
sama sekali. Tak mesti kamu sebut namaku, karena kita tidak akan pernah bisa
menduga siapa jodoh kita.
Dan saat kata “calon” itu
telah terhapus. Jadilah penjagaku yang slalu mengingatkan dan menjagaku disaat
aku terlupa dan disaat-saat lain yang tak terduga.
Dan aku sendiri, akan terus
berusaha agar aku pantas untuk bersamamu kelak.
Semoga do’a terindah slalu
mengalir bersama harapan kita. Meski kelak harus berada dalam
ketidaksempurnaan, kita akan slalu menjadi pasangan terindah dan sempurna meski
hanya kita yang tahu... :) :) :)
Calon penjagaku.
Mungkin surat ini tak layak
disebut sebagai surat cinta apalagi surat teramat romantis.
Seperti yang ku katakan
sebelumnya, surat ini tidak akan terhenti sampai disini. Karena akan ada
surat-surat lain yang lebih romantis, yang akan ku tulis, ketika kamu telah
berada disisiku, dihatiku.
Wassalamu’alaikum wa
rahmatullah wa barakaatuh.
Tertanda,
Calon jodohmu... :) :) :)

0 Coments