Note From Sunset in Weh Island...
23.48
Note kali ini berisi
beberapa paragraf kalimat yang ku ambil tanpa bilang-bilang dulu sama yang
punya tulisan dan tanpa bilang-bilang sama yang punya novel juga, hehee. Maaf
ya Mba Aida, Dink Ahlal... :D
Udah jadi hobi dari dulu.
Kalo lagi baca, entah itu Al-Quran, kitab-kitab, buku pelajaran, novel,
majalah, koran, komik atau apapun itu, kalo aku nemu kata atau kalimat yang aku
suka, aku bakal nulis kalimat itu di buku, biar jadi pengingat nantinya. Ga
peduli itu kalimat bakal bikin galau, sedih, bahagia, atau bahkan keinget dia
lagi *eh?
Naaaahh, waktu baca ni
novel, aku nemu kalimat-kalimat yang jadi incaran catatanku selanjutnya,
hahahaaa
Yaudah, daripada baca
curcolku yang ga jelas, mending kamu baca note dibawah ini, cekidot...dijamin
suka dan kamu bakal nemu hikmah didalamnya... :)
Oya, FYI, kalimat ini ku
ambil dari novel Sunset in Weh Island, karya Mba Aida, tentang kisah Mala dan
Axel, tentang cinta dan kepercayaan, pokoknya nanti baca novelnya sendiri deh
(padahal aku sendiri cuma minjem, hehe :D)... :)
OooOOoOOoOO
v “Jangan takut akan perpisahan,
semua luka pasti berlalu seperti buih ombak yang perlahan menghilang. Hidup
yang didasari oleh takut hanya akan menjadi sebuah ilusi dan kamu tak akan
mendapatkan apapun, selain ketakutan dan kecemasan. Selami saja dalamnya
lautan, karena sebagian keindahan ada disana. Kamu tak pernah melihat keindahan
itu jika kamu hanya berdiri di daratan dengan hati yang cemas.” (Kalo ga salah,
ini kata-katanya Bram buat anaknya, Mala, kalo ga salah sih,hehe)
v “Heran, apa menariknya dirimu!
Tapi,jika aku tak berdebat sehari saja denganmu, rasanya jadi aneh. Atau
jangan-jangan justru aku yang aneh.” (Ini kata-katanya Axel, waktu dia kangen
berantem sama Mala, *hampir tiap hari mereka berantem,ckckk)
v “Maafkan aku, hatiku, kini aku
benar-benar menyakitimu. Rasanya sangat perih menusuk-nusukku.” (Ini kalo ga
salah, waktu Mala tau kalo gebetannya udah ada yang punya, *ikut sedih T_T)
v “Aku percaya satu hal. Cinta
dan percaya adalah dua hal yang saling berhubungan. Kita tak cukup memelihara
percaya untuk dapat mencintai seseorang, tapi ketika kita mencintai, maka kita
harus mempercayainya.” (Yang ini, jawaban Mala saat ditanya sama Axel, kalo ga
salah juga..hehehee)
v “Kesedihan akan sebuah
perpisahan selalu membuat jiwa serasa tak kuat menanggungnya.”(Lupaaaa....siapa
ya yang bilang ini..kekekee)
v “Kedengarannya memaafkan itu
memang gampang, tapi ternyata syaratnya hanya satu, MAU atau TIDAK.” (Kata-kata
Mala yang terlintas di benak Axel, waktu dia bingung, mau maafin Marcel -sohibnya-
atau engga, hmmmm)
v “Kalau kamu mencintainya,
tunjukkan saja. Tapi, kamu harus percaya, sakit dan bahagia itu selalu satu
paket. Kita tak bisa memilih bahagia saja dan menghindari duka. Sebagai
pengandaian, kamu tidak bisa membeli sepatu sebelah kiri saja, karena yang
kanan diciptakan dan difungsikan secara bersamaan. Percayalah, saat kamu bisa
menerima keduanya, hatimu akan lebih tenang.” (Ini kata-katanya Bram lagi,
gegara Mala bingung dengan hatinya, Axel ato engga,,eeeaaaa :))
v “Ketika mencintai, maka bersiap
pula dengan sebuah sakit, bahkan terkadang sakit, rindu yang tak tersampaikan
semacam obat untuk terus bertahan mencintai orang yang sama dari waktu ke
waktu.” (Emmm, ini kata-kata Bram atauuuuu.... Aku lupa,hehee)
v “Hati itu dikontrol oleh rasa,
bukan mengontrol.” (Nah, yang ini kata-katanya Marcel, waktu Axel nyuruh dia
ngejaga cewe -cewe itu mantannya Axel- yang Marcel suka hmmm, rumit juga ya...)
v “Cinta sesungguhnya itu selalu
memberi, tulus...karena ketulusan tak pernah menyakiti siapapun.” (Huuuaaaa,
lupa lagi... -__-v)
v “Aku tidak mencintaimu karena
sebuah kepercayaan, tapi aku percaya bahwa ketika kita saling mencintai, maka
kita akan saling menjaga, saling memberi yang terbaik. Coz you, you just
come and go like a beat, like the same song on the radio, fast forward and
rewind. Play that song again... and again.” (Ga tau siapa yang bilang ini,
yang jelas, ini waktu Mala dan Axel jadian, hueheee :))
v “Hati tak selamanya menggunakan
logika, bahkan hati selalu berkaitan dengan rasa, bukan berkaitan dengan sudah
lama atau baru saja.” (Again and again, lupa siapa yang ngomong ini -__-v, tapi
mantap bro... :D)
v “Cinta tak mengenal kata
“bekas” untuk dilanjutkan dengan yang lain, tapi cinta selalu berlaku baru,
selalu pantas untuk siapapun, meskipun ia seorang bekas istri sekalipun.”
(Moment ini saat Bram meyakinkan hatinya, untuk mengejar cinta barunya, yang
sepertinya udah lama terpendam *mamanya Mala udah meninggal.)
v “Kamu tahu, debur ombak masih
seperti dulu, embusan angn masih berbagi cerita, kepakan sayap sering
mengirimiku rindu. Hanya satu yang baru disini, sebuah kalimat Unertaglich
–tak tertahankan- semakin akrab denganku. Membuatku terkadang berputus asa
dengan rindu ini.” (Tau ga ini kata-kata siapa? Ini kata-kata rindu Mala, dia
kangen banget sama Axel, soale si Axel lagi balik ke Jerman..hueheee)
v “Kamu tahu, di belahan bumi
manapun aku pergi, aku tahu separuh hatiku tertinggal disini, karenanya aku
selalu kembali, disini, dihatimu.” (Ini penutup novel, sekaligus kalimat jawaban
dari kata rindu Mala, karena Axel datang kembali menemuinya...heheheee)
OooOOoOOoOO
Itu tadi kalimat-kalimat
yang udah aku catat di notebook-ku. Maaf deh, kalo keterangannya agak gaje
alias ga jelas gitu. Pokoknya, kalo mau lebih jelas and pengen tau seluk beluk
cerita Mala dan Axel yang seru begete, baca novelnya sendiri yaaaaa... judulnya
Sunset in Weh Island... Kamu bakal ketemu sama Mala dan Axel yang hobinya
berantem mulu tiap hari, Bram yang penyayang, Kak Fida yang sering ngegodain
Mala, Om Alan yang hobi nyelam, Raffi (kalo ga salah ini namanya,hee) gebetan
Mala, Marcel yang sempat mengkhianati Axel dan alur hari dimana Mala dan Axel
bersama... *kabur dulu ke Tugu Nol Kilometer, kali aja ketemu Axel
disono..wkwkwkwkk
Sekian... Happy Reading ya,
Sob..... :) :) :)

2 Coments
Terimakasih udah dibikinin satu postingan ya heheehhe
BalasHapussama",mba...cerita menarik.. :) :) :)
BalasHapus