Jangan Menungguku, Lagi...

07.20




“Tahu rasanya menunggu? Pernah dilarang untuk menunggu seseorang?”

ooOoo

Kenalin, aku Dilla Khaira, aku sekarang jadi mahasiswi tingkat akhir di salah satu kampus bergengsi di kotaku. Aku mau nanya, kamu pernah ga ngerasain gimana capenya nunggu seseorang, padahal orang itu udah ngelarang kamu buat nunggu dia?

Aku pernah...

ooOoo

-Flashback On-

“Dilla, kamu kok telat banget sih datangnya? Kamu tau ini jam berapa? Jam 8 lewat...”

Kamu tau siapa yang nyerocos barusan? Pasti ga. Aku kasih tau nih. Dia itu Zifa, lengkapnya Jinan Nazifa, sohib ku yang udah kayak bos ku. Ngakunya feminin tapi kalau udah teriak, aku saranin kamu tutup telinga atau lari jauh-jauh dari dia. Kamu tau maksudku, kan?

“Aku tau Zif, kamu liat sendiri kan aku barusan datang dari ruang guru piket...”, jawabku datar sembari duduk disampingnya.

“Tumben banget Dil, kamu kan biasanya ga pernah telat.”

“Sekali-sekali boleh dong aku telat,” ucapku asal. Dan walhasil, satu jitakan mendarat dikepalaku, siapa lagi pelakunya kalau bukan Zifa.

“Kamu mesti cerita sama aku. Kenapa kamu telat, kenapa muka kamu kusut, kenapa suara kamu serak dan kenapa mata kamu sampai bengkak gitu?”

(Ini orang umurnya udah berapa tahun sih? Nanyanya kayak anak kecil aja. Ckk...)

Aku baru sadar, mataku masih bengkak. Pantas aja dari tadi dia menatapku penuh selidik. Aaaarrgghh, aku baru ingat kalau ini anak punya bakat jadi detektif...

“Aku ga ken...”

“Jangan bilang kalau tadi malam kamu abis nangis?” Dasar Zifzaf, aku belum selesai ngomong, dia malah motong, iissshhh...

“Aku ga kenapa-napa bos Zifa. Tadi aku kelilipan. Aku tadi berangkat pake motor, aku lupa bawa kacamata, kamu tau sendiri kan? mata aku itu sensitif sama debu...” aku bohong? Pasti... Dan sialnya, si Zifzaf ini malah tahu kalau aku bohong. Huhh...

“Halah, pake alasan kelilipan lagi. Aku kenal kamu ga cuma sehari, Non! Aku tau gimana kamu. Pasti gara-gara si kutu kertas itu, kan? Pulang sekolah aku mampir ke rumah kamu. Dan kamu mesti cerita sedetail-detailnya. Dan ga pake boong. Paham?”

Aku cuma bisa nganggukin kepala, karena kalau bos yang satu ini sudah penasaran, jangan harap dia bakal tenang, dia bakal introgasi anak buahnya sejelas-jelasnya tanpa ampun.
=====
Sepulang sekolah. Di kamarku...

“Dil, kamu cerita deh sama aku, kamu kenapa?” tanyanya lembut. Dasar ini anak, aku cape tahu, rutukku dalam hati tentunya.

“Zif, kamu bisa ga nahan pertanyaan kamu nanti. Perut aku udah minta di isi nih...”

“Hee...aku juga. Ya udah kita ke ruang makan yuk...” ajaknya tanpa dosa dan tanpa mikir kalau yang dia ajak makan itu tuan rumahnya. Ckk...

=====
“Zif...”

“Emmhh...”

“Kamu pernah ga...”

“Apaan? Ngomong tu yang jelas, Dil...” sahutnya tanpa menoleh kearahku. Mungkin karena ga ada respon dari ku yang udah banjir airmata dari tadi, dia menatapku.

“Ya Allah... Dilla, kamu kenapa? Kenapa bisa sampai kayak gini sih? Ya udah, kita ke kamar kamu, oke?” Dan aku jawab dengan anggukan.

=====
“Dil, kenapa?”

“Zif, aku dilarang nunggu dia...”

“Dia? Dia siapa, Dil? Zein maksud kamu?”

Aku mengangguk lemah.

“Udah aku duga, si kutu kertas itu biang keroknya. Dia ngomong apa emang? Cerita ke aku...”

Lalu aku ceritain ke Zifa sedetail-detailnya.
=====
Minggu pagi kemarin, sehari sebelum aku masuk ruang guru piket, aku sama Zein pergi ke taman dekat rumahku. FYI, aku sama Zein udah tunangan. Awalnya, kita berdua senang-senang. Naik perosotan, main ayunan, makan es krim sambil foto bareng. Tiba-tiba Zein mengajakku ke suatu tempat. Kamu tau kemana? Dia ngajak aku ke rumah sakit. Jelas aku bingung. (Kenapa? Karena tadi kita berdua lagi seru-serunya, eh... dia malah tiba-tiba datang ke rumah sakit.) Sesampainya disana, dia mengajakku ke sebuah ruangan khusus, yang belakangan aku tau kalau itu ruangan khusus untuk penderita kanker. Kebingunganku bertambah saat dia bilang,

“Dil, mereka yang ada disini, hanya punya sedikit harapan untuk bertahan hidup.” Dia mengatakannya dengan tatapan kosong. Sebelum aku balik bertanya,

“Dil, jangan nunggu aku lagi, ya...” perkataan yang sontak membuat ku teramat kaget.

“Zein, apa maksud kamu? Bentar lagi kita lulus, lalu kita nikah dan lanjut kuliah bareng. Itu udah jadi kesepakatan kita kan? Kenapa sekarang kamu ngelarang aku nunggu kamu lagi?”

“Aku mohon, Dil. Jangan pernah nunggu aku lagi...” kemudian dia berlalu meninggalkanku sendiri.
=====
“Jadi maksud kamu, Zein ninggalin kamu gitu aja? Tanpa bilang apa alasannya?”

“Iya, Zif. Aku belum sempat dapat jawaban dari dia. Dia udah pergi ninggalin aku sendiri disana.”

“Kamu udah nyoba telpon dia?”

“Udah Zif, kemarin sesampainya dirumah, aku telpon dia, tapi malah direject. Aku telpon beberapa kali, tetap sama. Sms sama bbm aku juga ga dia balas,” ucap aku sesenggukan.

“Ya udah, besok kita samperin dia di kelasnya. Kita minta dia buat ngejelasin semuanya. Kamu tenang, ya... Aku pulang dulu, udah sore. Besok pagi aku jemput kamu. Jangan nangis lagi, non...” Zifa pun berpamitan pulang dan tinggallah aku sendiri.

Sembari menanti kejelasan dari Zein.

-Flashback Off-
ooOoo

“Dilla, kita balik yuk...” Suara Mas Ayat menyadarkanku dari lamunan.

Disini. Di pemakaman ini.

Ini tahun kedua pernikahanku dengan Mas Ayat. Mas Ayat melamarku tepat sebulan setelah kepergian Zein. Mas Ayat, dia kakaknya Zein. Zein melimpahkan janjinya untuk menikahiku kepada Mas Ayat.
=====
Ya. Setelah hari itu, hari dimana  Zein melarangku untuk menunggunya lagi, usahaku dan Zifa untuk menemuinya dan meminta penjelasan darinya berakhir nihil. Zein tidak pernah kembali ke sekolah. Bahkan keluarganya pun tiba-tiba menghilang tanpa alasan.

Aku terus mencari info tentangnya, tapi hasilnya tetap sama. Tak ada kabar darinya.

Lalu, tepat 40 hari setelah hari itu, aku mendengar kabar bahwa dia berada di rumah sakit. Rumah sakit yang sama yang pernah kami kunjungi di hari itu.

Aku, Zifa dan keluargaku segera mendatanginya. Marah, sedih, kesal, bercampur jadi satu. Saat itu yang terpikir olehku adalah memarahinya, memintanya untuk bertanggung jawab atas semua kekacauan yang dia tinggalkan.

Tapi, kemarahan itu tak pernah bisa ku katakan, karena ketika aku memasuki ruangan itu, aku melihatnya terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Wajahnya pucat, tapi senyumnya yang ku rindukan masih terukir manis dibibirnya. Dia mengisyaratkan agar aku mendekat.

Sungguh, aku tak kuasa menahan airmata. Andai saja hubungan kami sudah sah, inginku memeluknya, memeluk tubuh lemah itu. Aku mendekatinya, berusaha sekuat tenaga menghentikan isak tangisku. Dia menatapku lemah.

“Dilla, maafin aku. Sudah membuatmu marah, kesal, dan aku telah merusak mimpi indahmu. Maaf aku melarangmu untuk menungguku lagi. Maaf aku tidak menjelaskan semuanya. Aku tahu semuanya akan berakhir seperti ini. Aku takut meninggalkanmu, disaat kamu bahagia. Maaf aku membuatmu sedih. Aku hanya ingin kamu bahagia tanpa kenangan tentangku. Maafkan aku, Dilla...” ucapnya lemah.

Sontak saja airmata ini mengalir dengan derasnya. Zifa, keluargaku dan keluarga Zein hanya bisa menatap kami berdua.

“Zein, kenapa kamu tega? Kenapa kamu ga bilang sama aku? Kenapa baru sekarang?” isakku.

“Dilla, maafkan aku. Aku ingin kamu bahagia. Menikahlah dengan Mas Ayat. Dia lelaki yang baik, yang akan menjagamu. Aku mempercayainya...” ucapnya lirih.

“Zein...”

“Dilla, waktuku tidak lama lagi. Jadilah istri yang sholehah. Jadilah yang terbaik. Aku akan menjadi saksimu dikejauhan sana. Bismillahirrahmanirrahim, Asyhadu an laa ilaaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadarrasulullah...” dia berbisik lirih, semakin lirih, menyisakan senyap di hati.
ooOoo
 
Amt, 110114
*sekumpulan kalimat pengganti kata
*Sketsa Buram Sang Perindu Surga
*Ai 'aiSy Aishah

You Might Also Like

2 Coments

Find Me On Facebook

Labels

camilan (2) cara (2) kreasi (2) kue (2) resep (2) tutorial (2) Abah (1) Al Quran (1) Fatmah Bahalwan (1) IT (1) aisy (1) amal (1) barat (1) bolu (1) brother (1) cake (1) cerita pendek (1) cerpen (1) cookies (1) dapur_elHamidy (1) dessert (1) edukasi (1) hafalan (1) ilmuwan (1) ilmuwan muslim (1) imajinasi (1) informatika (1) jangan (1) komputer (1) kue kering (1) kuker (1) kukus (1) kuliner (1) lagi (1) laptop (1) makanan (1) menghafal (1) menungguku (1) microsoft (1) motivasi (1) muslim (1) option (1) pandan (1) papadahan (1) pengukuran (1) pisang (1) printer (1) putri salju (1) scan (1) short tutorial (1) sketsa (1) sketsanyaaisy (1) snow white (1) standar (1) taksbar (1) teknik (1) tips (1) waktu (1) westernisasi (1) win7 (1) windows (1) word (1)