Setelah melewati perjalanan subuh yang begitu
dingin bersama ayah, akhirnya kami pun sampai di kota Amuntai. Ya, tujuanku ke
kota ini, memenuhi keinginan ayah, untuk kuliah di salah satu kampus di kota
ini. Ayah sangat ingin anak-anaknya menjadi penghafal al-Quran.
Berbekal keyakinan dan sedikit keterpaksaan,
aku berharap ujian masuk saat itu, berjalan dengan lancar. Dan pada akhirnya,
keyakinan itu terwujud. Aku diterima di kampus itu, dimana perlahan aku bisa
menemukan jati diriku, menemukan teman dan suasana baru yang ternyata sangat
jauh dari perkiraanku, dan di situ pula, cinta itu bersemi... ^_^
Selang 3
bulan setelah ujian masuk. Aku mulai akrab dengan suasana di kampus ini.
Seperti tak ingin menjauh dari tempat ini, aku memperoleh ketenangan bersama
para penjaga wahyu Ilahi.
Hmmm, ternyata aku bertemu dengan seseorang,
yang sepertinya mulai menimbulkan getar cinta. Ah, sepertinya syaitan ikut
berpartisipasi dalam hal ini. Duh, Rabbi...aku tau rasa ini hadir atas
kehendak-Mu, tapi akankah keinginanku untuk memenuhi keinginan tulus ayah, akan
tergeser dengan hadirnya rasa ini?
Perlahan, aku mulai mencoba menjauhi rasa ini,
meski godaan itu semakin hari semakin besar. Ku coba untuk memfokuskan hati dan
pikiranku pada aktivitas menghafal dan kuliahku, namun pada akhirnya, chemistry
cinta itu tak dapat terkalahkan. Aku luluh. Hingga suatu hari, sms dari
nomor yang tak ku kukenal, menyapaku.
Aku yang biasanya tidak terlalu menghiraukan
nomor yang tak ku kenal, tiba-tiba ingin membalasnya, yah... siapa tau sms dari
adik kelas semasa Aliyah dulu, pikirku.
Waktu berlalu, sms itu pun tak berbalas.
Akhirnya, akupun merasa menyesal, sepertinya nomor itu hanya nomor iseng. Tanpa
pikir panjang, nomor itupun ku delete.
Seminggu berlalu, seperti tau apa yang ku
pikirkan, sms dari nomor itu pun kembali menyapa.
“Assalamu’alaikum, lgi ngapain, ding[3]?
Maaf wktu itu g d bls, soal’x pulsa’x
hbis, he. Aku Syahid, tmn 1 lokal kamu.”
“Wa’alaikumsalam, lgi sntai aja. Iya, g papa
kok, aku pikir cm no. iseng. Oh, Ka Syahid, ad apa, Kak?”
“G ad apa2, cuma pengen smsan aja sm ading,”
“Ouwc....”, balasku singkat.
Dalam benakku tersirat, wah, pucuk di cinta
ulam pun tiba nih ceritanya, hehe...
Syahid, ya...orang itu lah yang membuat ku
merasakan chemistry yang begitu kuat, yang tak mampu ku kalahkan.
Semenjak first sms itu, hari-hari kami pun diwarnai dengan canda tawa
dan harapan serta janji yang indah.
Hingga tiba hari itu...
Sesaat setelah acara wisuda, Syahid bersama
keluarganya datang menghampiriku dan keluargaku. Ya, hubungan kami sudah
diketahui oleh keluarga masing-masing. Singkat kata, ucapan selamat atas
kelulusan kami pun mengalir dengan suka cita. Tapi, ada satu yang mengganjal
dalam hati ku, di hari bahagia ini. Ada apa dengan tatapan itu? Tatapan yang
menyiratkan satu kesedihan.
Setelah
pertemuan itu, entah kenapa hatiku tak menentu. Perasaan yang sulit
diungkapkan. Dalam kebingungan, ku coba untuk menenangkan hati dengan shalat.
Tak terasa, air mata jatuh dengan sendirinya. Hatiku semakin tak karuan rasa.
Sesaat kemudian, hp-ku berdering.
“Assalamu’alaikum. Ading, sebelum’x Kakak mnta
maaf. Kakak sbenar’x tkut blg ini, tapi...”
Kontan saja air mataku mengalir dengan deras,
entah kenapa.
“Wa’alaikumsalam, minta maaf knpa, Kak? Ap yg
Kakak tkutkn? Bilng aj, Kak...”
“Ading, beribu-ribu maaf ats semua ini, Kakak g
prnah ingin brbhong, aplgi mexakiti
prsaan ading. Maaf, Kakak g bisa menuhi janji Kakak yg dulu, janji tuk
menikahi ading.”
“Sbnarx ad ap, Kak? Knpa tiba2 Kakak sprti
ini?”
Mungkinkah ini alasan, kenapa tatapan itu
begitu sedih...
“Ading,maaf, sebelum’x Kakak g prnah tau, klau
trxta keluarga Kakak, g setuju ats hub. ini, Kakak bersikeras mmprthankan hub. kita,
tpi mrka ttp mmprthankn kputusn mrka. Kakak bingung dg semua ni, saat Kakak blg
mau mnikhi ading, tiba2 mreka blg bgtu.”
Serasa jatuh dari ketinggian, aku tak lagi bisa
menahan tangis, sesak terasa. Harapan dan janji yang selama ini begitu kami
jaga, harus pupus oleh keputusan itu.
“Kak, knpa bru skrang Kakak blg, knpa g dri
dlu?”, aku bingung harus membalas apa.
“S’andaix semua yg trdi d ktahui lebih awl,
smuax akan bhgia, ding. Kakak jg bru tau skrang, Kakak sdh berusaha mykinkn
keluarga Kakak, tpi mrka ttp brthan. Janji yg Kakak blg dlu, g brubh, ttp Kakak
prthankan. Ingat ding, jodoh tu g bkal trtukr, klau mmg kta jodoh, insya Allah
akn brtmu lagi nnti.”
“Tapi, Kak...”
“Tapi apa, ding? Ading jgn khawatir, Kakak akn
sllu mnjga janji Kakak, hngga jodoh tu
trjwab. Ni semua mmg bert, Kakak hrp, ading bsa mengerti, ttp trus brhrap
pda-Nya, bukn pda Kakak. Dn jg, ading jgn down gra2 ni, ading ttp hrus smngt.
Ttp hrus hidup dlm kbaikn. Mski pda akhr’x nnti, kta tk brjdoh. Ading hrus sllu setia, setia’x sama Allah,
ya?”
“Kak, ni semua brat bgt. Ading rasa, ading g
sanggup.”
“D coba dlu ding,Kakak pun mrsa g sanggup.
Niatkan krna Allah, ding.”
“Semoga bisa, Kak. Kakak jg ya...”
“Insya Allah...jdi lah yg terbaik, ding!!!”
Setahun berlalu, semenjak sms terakhir itu.
Meski lama, aku berhasil mengkhatamkan
hafalanku. Aku bahagia, karena aku mampu mewujudkan harapan ayah. Aku pun sudah
mulai merasa tenang. Semenjak “kejadian” itu, aku berusaha memperbaiki hatiku,
mencoba bertahan dengan janji itu. Setia pada Allah, sembari menunggu janji-Nya
terjawab.
Hari ini, tiba-tiba aku teringat kembali
tatapan itu, tatapan kesedihan itu. Tak terasa air mata ku mengalir, hatiku
kembali tak menentu. Sebuah sms dari nomor yang amat sangat ku kenal, menyapaku
kembali, dengan sapaan,
“Assalamu’alaikum, Zhafira. Syahid telah
berpulang.”
Serasa tak percaya dengan apa yang ku baca, aku
mengulangnya beberapa kali, hingga pada akhirnya aku mulai yakin, kalau yang ku
baca bukan sebuah kesalahan.
Aku bergegas menuju rumahnya dengan hati yang
masih belum sepenuhnya yakin. Saat tiba di sana, aku lunglai. Ternyata semua
itu nyata adanya. Syahid, telah pergi. Syahid, telah meninggalkan ku seperti
dulu, bahkan lebih jauh.
Sebelum pulang, kakak Syahid menghampiriku
sembari menyerahkan sebuah bingkisan, dan berkata,
“Maaf ding, mungkin selama ini, Syahid tlah
membohongi ading.”
Aku tak mengerti, tapi kakak Syahid memintaku
untuk mengetahui semuanya dari bingkisan itu.
Setibanya di rumah, aku membuka bingkisan itu.
Selembar sajadah biru terbungkus rapi disertai foto Syahid dan sepucuk surat.
Tulisan yang begitu aku kenali, tulisan orang yang begitu aku rindukan.
Amuntai,
10 Oktober 2015
Teruntuk Ading Zhafira, yg Kakak rindukan
selalu.
Assalamu’alaikum wr. wb.
Ading, mohon maaf, Kakak baru bisa menanyakan
kabar ading sekarang, apa kabar pian? Ulun harap, ading selalu dalam
lindungan-Nya.
Ading, beribu-ribu maaf. Karena selama ini
Kakak berbohong, membohongi ading dan jg perasaan Kakak sendiri. Jujur ding,
sebenarnya keluarga Kakak sangat setuju dengan hubungan kita. Kakak sangat
bahagia. Ketika hari dimana Kakak ingin melamar ading, tiba2 Kakak jatuh sakit.
Hari itu juga, Kakak dibawa ke rumah sakit, di sanalah Kakak tau, kalau selama
ini Kakak mengidap paru-paru basah, dan saat itu sudah sangat parah.
Keluarga Kakak ingin mengatakannya pada Ading,
tapi Kakak melarangnya. Kakak ga ingin ading khawatir, karena Kakak tau, Ading
selalu khawatir dengan keadaan Kakak, untuk itulah Kakak berbohong.
Ketahuilah ding, kalau selama kita berpisah.
Kakak berusaha menjaga janji kita, Kakak selalu memperhatikan apa yang ading
lakukan selama itu. Kakak bahagia, sangat bahagia, karena ading tetap bertahan
dalam kebaikan dan tak berputus asa, ading tetap setia pada-Nya.
Hari dimana ading mengkhatamkan hafalan ading,
dengan sempurna. Kakak hadir di acara itu, Kakak sangat bahagia, akhirnya ading
mampu menjadi hafizhah, mewujudkan harapan ayah. Barakallah, ding....Allah
yubariek fiek...Always ‘n forever.
Maafkan Kakak ding, mungkin ini yang terakhir,
maafkan janji yang belum sempat terpenuhi. Kakak titip selembar sajadah ini tuk
ading, semoga selamanya Ading tetap setia pada-Nya. Do’akn Kakak, agar dapat
bertahan di sisi-Nya dengan kebaikan. Semoga ading mendapatkan yang terbaik.
Salam rindu Kakak tuk ading, di Risalah Kerinduan-Nya...
Wassalamu’alaikum wr. wb
Kakak pian,
Syahid
Jilbab ku telah basah oleh air mata, ternyata
selama ini, dia berbohong, hanya tuk menjaga ku, menjaga janji kami, hingga
akhir hayatnya.
”Dia mengajariku tentang semuanya, meski
sakit harus ku rasa, meski kesalahan pernah terjadi, dia tetap membantuku tuk
menjadi lebih baik. Melepaskan semuanya memang berat, tapi dia selalu
meyakinkan hatiku, agar aku kembali menjaga semuanya, agar indah pada waktunya.
Mengajari ku kesetiaan, setia pada-Nya, bukan padanya, dia mengajari ku arti
hidup, menjadi saksi perubahan ku. Mungkin tak berlebih jika aku menyebutnya...
Syahidii...”
Amuntai, 27 Desember 2012
Bint-el-HudA


